Kesultanan Johor

kerajaan di Asia Tenggara Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Kesultanan Johor

Kesultanan Johor Riau (Melayu:‏کسلطانن جوهر رياو‎‎) atau Kesultanan Johor Lama, Johor Empire, atau turut juga disebut Kemaharajaan Melayu adalah sebuah kesultanan Melayu berlandaskan Islam yang didirikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah II pada tahun 1528, putra dari Sultan Mahmud Syah I, Raja terakhir Kesultanan Melaka.

Fakta Singkat Kesultanan Johor کسلطانن جوهر, Ibu kota ...
Kesultanan Johor

کسلطانن جوهر
1528–1855

Bendera Kesultanan Johor
Peta yang menunjukkan pembagian Kesultanan Johor sebelum dan sesudah Perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824, dengan Kesultanan Johor pasca-partisi ditampilkan dalam warna ungu paling terang, di ujung Semenanjung Malaya
Peta yang menunjukkan pembagian Kesultanan Johor sebelum dan sesudah Perjanjian Inggris-Belanda tahun 1824, dengan Kesultanan Johor pasca-partisi ditampilkan dalam warna ungu paling terang, di ujung Semenanjung Malaya [2]
Ibu kota
  • Sayong Pinang
  • (1528–1536)
  • Muar
  • (1536–1540)
  • Johor Lama
  • (1540–1564)
  • (1571–1587)
  • Bukit Seluyut
  • (1564–1570)
  • Batu Sawar
  • (1587–1615)
  • (1642–1673)
  • Bintan
  • (1617–1618)
  • Lingga
  • (1618–1623)
  • (1812–1824)
  • Kepulauan Tambelan
  • (1623–1641)
  • Kota Tinggi
  • (1641–1642)
  • (1685–1699)
  • (1678–1685)
  • (1708–1716)
  • (1718–1788)
  • Panchor
  • (1700–1708)
  • Pekan
  • (1788–1795)
  • Singapura
  • (1819–1824)
Bahasa yang umum digunakanMelayu
Agama
Islam Sunni
PemerintahanMonarki
Sultan 
 1528–1564
Alauddin Riayat Shah II
 1835–1855
Ali Iskandar
Bendahara 
 1513–1520
Tun Khoja Ahmad
 1806–1857
Tun Ali
Sejarah 
 Didirikan
1528
 Dibubarkan
1855
Mata uangTin ingot, koin emas dan perak asli
Didahului oleh
Digantikan oleh
kslKesultanan
Malaka
kslKesultanan
Pahang
kslKesultanan
Siak Sri Indrapura
kslKesultanan
Lingga
Negeri-Negeri Selat
Johor
Pahang
Sekarang bagian dari Malaysia
 Indonesia
 Singapura
Sunting kotak info Lihat Bicara
Bantuan penggunaan templat ini
Tutup
Informasi lebih lanjut Sejarah Malaysia ...
Tutup

Pada puncak kejayaannya kerajaan ini memerintah kawasan yang saat ini meliputi beberapa wilayah di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Yakni mencakup Johor, Pahang, Terengganu, Selangor, Negeri Sembilan, Tanjung Tuan Melaka, Muar, Batu Pahat, Singapura, Pulau Tinggi, Kepulauan Karimun, Kepulauan Bintan, Bulang, Lingga, Bunguran, Bengkalis, Kampar, Siak, Jambi dan pulau-pulau lain di lepas pantai timur Semenanjung Malaya.

Dalam perjalanan sejarahnya, ibukota Johor Riau kerap berpindah-pindah karena berbagai alasan. Mulai dari Kota Kara (Bintan), Pekantua (Riau), Sayong Pinang (Malaysia), Johor Lama (Malaysia), Daik, Lingga, Tanjung Pinang, Singapura dan lainnya.

Semasa zaman penjajahan, beberapa wilayah Johor di bagian semenanjung Malaysia dijajah oleh Inggris, sementara beberapa wilayah Johor di Riau dijajah oleh Belanda. Inilah yang dikemudian hari menyebabkan pemisahan antara Johor dan Riau, dimana pada saat ini wilayah Johor di Semenanjung Malaysia menjadi bagian dari Negara Malaysia, sedangkan wilayah Johor di Riau menjadi wilayah dari Indonesia.

Berdirinya kerajaan Johor-Riau tidak terlepas dari runtuhnya Kesultanan Melaka. Pada tahun 1511, Melaka runtuh ditangan Portugis dan Sultan Mahmud Syah I yang ketika itu memerintah Melaka melarikan diri ke Pahang, lalu ke Bentan atau Pulau Bintan dan mendirikan pusat pemerintahan baru bernama Kota Kara.

Di Pulau Bintan, Sultan Mahmud Shah berusaha untuk membangunkan kekuatan kembali dengan mengumpulkan semua prajurit terlatihnya. Beberapa serangan dan boikot jalur perdagangan dilakukan terhadap Portugis. Usaha itu membuat Portugis yang telah menguasai Melaka mengalami banyak kerugian. Portugis muka dan pada tahun 1526,

Pedro Mascarenhaas memimpin angkatan laut Portugis untuk menyerang Kota Kara di Bintan. Angkatan laut Portugis yang kuat tidak mampu dikalahkan oleh Sultan Mahmud Syah. Sultan dilarikan oleh orang-orang kepercayaannya keluar Pulau Bintan dengan melintasi Selat Melaka dari Bintan menuju Pekantua Kampar, tepatnya di wilayah Kabupaten Pelalawan saat ini dan wafat disana. Dengan wafatnya Sultan Mahmud Syah I, berakhirlah riwayat trah Sri Parameswara memerintah Melaka.

Sultan Mahmud Syah wafat dengan meninggalkan beberapa orang putra dan putri, diantaranya adalah Sultan Mudzaffar yang mendirikan kerajaan Perak, dan Sultan Ali yang mendirikan kerajaan Johor-Riau.

Sultan Mudzaffar dan keturunannya terus menerus menjadi penguasa Kesultanan Perak, sementara Sultan Ali dan keturunannya terus menerus menjadi penguasa Kesultanan Johor-Riau.

Daftar Nama-Nama Sultan Penguasa Johor

Ringkasan
Perspektif

Wangsa Parameswara

Wangsa ini berasal dari keturunan raja-raja Melaka pertama hingga terakhir. Setelah Melaka dihancurkan Portugis, Sultan Mahmud Syah I, Raja Melaka ke-8 melarikan diri ke Kampar, Riau bersama anaknya dan mangkat di sana.

Raja Muzaffar putra Sultan Mahmud Syah I ditabalkan menjadi Sultan Perak yang pertama dengan menggelarkan dirinya sebagai Sultan Muzaffar Syah. Sedangkan putra lainnya, Raja Ali mendirikan Kesultanan Johor Riau yang dinisbatkan sebagai pelanjut tahta kesultanan Melaka.

Oleh sebab itu pemberian nomor pada nama-nama sultan yang serupa di Kesultanan Johor Riau merupakan kelanjutan dari nama-nama dari Sultan Melaka.

Informasi lebih lanjut Periode, Nama Raja ...
PeriodeNama RajaCatatan dan peristiwa penting
Wangsa Parameswara (Wangsa Melaka)
1528-1564Sultan Alauddin Riayat Syah IIMendirikan Kesultanan Riau Johor
1564-1570Sultan Muzaffar Syah II
1570-1571Sultan Abdul Jalil Syah ISerangan Portugis pada 1587
1571-1579 Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II
1597-1615Sultan Alauddin Riayat Syah IIISerangan Portugis tahun 1604, membuat perjanjian dengan VOC tahun 1606
1613-1615Masa peralihanPenaklukan Kesultanan Aceh tahun 1613
1615-1623Sultan Abdullah Muayat SyahDi bawah pengaruh Kesultanan Aceh
1623-1673Sultan Abdul Jalil Syah IIIMelepaskan diri dari Aceh selepas mangkatnya Sultan Iskandar Muda
1673-1677Masa peralihanPenaklukan Jambi tahun 1673
1677-1685Sultan Ibrahim Syah
1685-1699Sultan Mahmud Syah IIDibunuh dalam perjalanan menunaikan Sholat Jum'at
1718-1722Raja KecilPutra Sultan Mahmud Syah II yang dilarikan ke Sumatera ketika masih dalam kandungan.

Menuntut kembali takhta dari keluarga Bendahara dengan dukungan penuh Pagaruyung, Riau, Jambi, Palembang, dan Orang Laut di Kepulauan Riau. Memindahkan pusat kerajaan ke Riau

Wangsa Bendahara
1699-1718 Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV Kekosongan pemerintahan akibat terbunuhnya Sultan Mahmud Syah II membuat pembesar kerajaan melantik Bendahara sebagai Sultan.

Ditaklukkan Raja Kecil dan dikembalikan menjadi Bendahara Dibunuh Raja Kecil atas persengkongkolan pemberontakan

1728-1760Sulaiman Badrul Alam SyahPutra Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV

Merebut kembali takhta Johor dari Raja Kecil atas bantuan VOC dan 5 Bugis bersaudara

1760-1770Masa peralihanPenaklukan Raja Ismail
1779-1781Raja Ismail
1781-1791Raja Yahya
1791-1811Sultan Sayyid Ali
1811-1818Sultan Sayyid Ibrahim
1818-1819Masa peralihanSiak melepaskan diri dari Johor, kemudian diperebutkan Inggris di Singapura dan Belanda di Tanjungpinang
1819-1824Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah**
Sultan Husain***
Johor diklaim oleh 2 raja
1824-1855Masa peralihanJohor menjadi wilayah jajahan Inggris****
1855-1862Daeng IbrahimTumenggung Johor*****
1862-1895Sultan Abu Bakar ibni Daeng Ibrahim
1895-1959Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu BakarKemerdekaan Malaysia, Johor menjadi bagian dari Malaysia
1959-1981Sultan Ismail ibni Sultan Ibrahim
1981-2010Sultan Iskandar ibni Sultan Ismail
2010-sekarangSultan Ibrahim Ismail ibni Sultan Iskandar
Catatan:
* Berdasarkan Sulalatus Salatin versi Raffles.
** Raja Lingga di bawah perlindungan Belanda.
*** Raja Singapura di bawah perlindungan Inggris.
**** Pengaruh Perjanjian London tahun 1824.
***** Diangkat oleh Inggris menjadi raja di Johor.
Tutup

Catatan kaki

Wikiwand - on

Seamless Wikipedia browsing. On steroids.