Goenawan Mohamad

Sastrawan Bahasa Indonesia dan Jawa Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas

Goenawan Mohamad

Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir 29 Juli 1941 ) adalah seorang penyair, esais, penulis naskah drama, dan editor Indonesia. Dia adalah pendiri dan editor majalah Indonesia Tempo. Goenawan adalah seorang pengkritik yang vokal terhadap pemerintah Indonesia, dan majalahnya secara berkala ditutup karena kritik-kritiknya.

Fakta Singkat Lahir, Nama lain ...
Goenawan Mohamad
Thumb
LahirGoenawan Soesatyo Mohamad
29 Juli 1941 (umur 83)
Batang, Keresidenan Pekalongan, Hindia Belanda
Nama lainGM
Pekerjaan
  • Penyair
  • penulis esai
  • penulis naskah
  • sutradara
  • editor
OrganisasiTempo
Karya terkenalCatatan Pinggir, Komunitas Salihara
Suami/istriWidarti Goenawan
Anak2
KerabatKartono Mohamad
Penghargaan
Discogs: 3137334
Tutup

Goenawan telah memenangkan berbagai penghargaan untuk karya jurnalistiknya, termasuk CPJ International Press Freedom Awards (1998), International Editor of the Year Award (1999) dan Dan David Prize (2006).

Empat puisinya telah digubah menjadi kumpulan Tembang Puitik oleh komponis / pianis Ananda Sukarlan berjudul "Gemuruhnya Malam", dan telah menjadi bagian dari repertoire untuk bariton dan piano oleh para vokalis klasik.

Masa muda

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah asuhan H.B Jassin.

Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Goenawan dan memiliki dua anak. [note 2]

Pendidikan

Dunia jurnalistik

Karier GM—panggilan singkatnya—dimulai dari redaktur Harian KAMI (1969-1970), redaktur Majalah Horison (1969-1974), pemimpin redaksi Majalah Ekspres (1970-1971), pemimpin redaksi Majalah Swasembada (1985).[2] Dan sejak 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan Tempo.

Dia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan Dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan Dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo.[3]

Jaringan Islam Liberal

Setelah pembredelan Tempo pada 1994, ia mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi), sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.

Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”. Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi. Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.[4][5][6]

Karya tulis

Buku

  • Parikesit (1969)
  • Interlude (1971)
  • Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
  • Seks, Sastra, dan Kita (1980)
  • Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001 (2001)

Lihat pula

Catatan

  1. Presiden Joko Widodo atas nama negara menyematkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Budayawan Goenawan Susatyo Mohamad. Acara penyematan berlangsung di Istana Negara. Jakarta, 13 Agustus 2015[1]
  2. Melanjutkan pendidikan ke Fakultas Psikologi UI, GM -- demikian ia dipanggil di kalangan dekat -- segera terbilang di kalangan intelektual muda yang gelisah menjelang keruntuhan Orde Lama. Bersama antara lain Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Taufiq Ismail, Arief Budiman, dan H.B. Jassin, ia ikut menyusun Manifesto Kebudayaan, yang pada zaman Soekarno diejek sebagai Manikebu. Begitu Orde Lama tumbang, GM malah seperti menyingkir, menuntut ilmu ke College of Europe, Belgia. Pulang dari sana, ia sempat menjadi wartawan harian Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kemudian turut mendirikan majalah Ekspres, dan terakhir, bersama sejumlah rekan, memisahkan diri dan mendirikan Majalah Berita Mingguan Tempo.[2]

Rujukan

Bacaan

Pranala luar

Wikiwand - on

Seamless Wikipedia browsing. On steroids.